CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Senin, 06 April 2009

St. Skolastika Jiwanya ke Surga dalam rupa burung merpati

St. Skolastika
St. Skolastika dan St. Benediktus adalah saudara kembar. Mereka dilahirkan di Nursia, Italia pada tahun 480. Skolastika adalah seorang gadis yang cerdas dan peramah. Ia juga seorang yang religius; sejak belia ia telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan.
Ketika mereka berusia duapuluh tahun, Benediktus pergi mengasingkan diri sebagai pertapa dalam sebuah gua terpencil di Subiako. Di kemudian hari, ia pergi ke Monte Kasino dan mendirikan biara di sana. Skolastika menyusul saudaranya dan tinggal di Plombariola yang berjarak kurang lebih 5 mil dari biara Benediktus. Dengan bantuan dan petunjuk Benediktus, Skolastika mendirikan dan memimpin biara wanita.
Setahun sekali Skolastika mengunjungi saudaranya untuk membicarakan masalah-masalah rohani. Karena perempuan tidak diperbolehkan memasuki biara Monte Kasino, maka Benediktus ditemani dengan beberapa muridnya akan menemui Skolastika di sebuah rumah yang tidak jauh letaknya dari gerbang biara. Pada suatu hari Skolastika datang berkunjung dan Benediktus menemuinya bersama beberapa murid. Sepanjang hari itu mereka memuji Tuhan dan berbicara mengenai hal-hal rohani. Ketika malam tiba mereka makan malam bersama. Pembicaraan terus berlanjut sementara malam semakin larut. Berkatalah Skolastika kepada saudaranya,
“Jangan tinggalkan aku malam ini; mari kita berbicara mengenai sukacita kehidupan rohani sampai pagi.”
“Saudariku,” jawab Benediktus, “Apakah yang engkau katakan itu? Aku tidak boleh tinggal di luar biaraku.”
Ketika didengarnya bahwa Benediktus menolak permintaannya, perempuan kudus itu menangkupkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan kepala dan berdoa. Sementara ia mengangkat kepalanya kembali, halilintar datang sambar-menyambar, gemuruh guntur bersahut-sahutan dan hujan badai membasahi bumi, sehingga baik Benediktus maupun murid-muridnya tidak dapat pulang. Karena sedih, Benediktus mengeluh:

“Semoga Tuhan mengampuni engkau, saudariku. Apa ini yang telah engkau lakukan?”

“Yah,” sahutnya, “aku mohon padamu tetapi engkau tidak mau mendengarkan aku; jadi aku mohon pada Tuhan-ku dan Ia sungguh mendengarkan aku. Sekarang pergilah jika engkau bisa, tinggalkan aku dan kembalilah ke biaramu.”

Jadi, demikianlah malam itu mereka tidak tidur semalaman, asyik dengan pembicaraan mereka tentang sukacita kehidupan rohani.

Tiga hari kemudian, Benediktus sedang berada di kamarnya di biara. Ketika ia menengadah menatap langit, ia melihat jiwa saudarinya meninggalkan jasadnya dalam rupa seekor burung merpati, dan terbang tinggi menuju suatu tempat rahasia di surga. Benediktus amat bersukacita, ia berterima kasih kepada Tuhan yang Mahakuasa dengan nyanyian serta puji-pujian. Kemudian ia memerintahkan para muridnya untuk menjemput jenasah saudarinya dan membawanya ke biara. Benediktus membaringkan jenasah Skolastika dalam kubur yang telah dipersiapkannya bagi dirinya sendiri; kubur di mana kelak tubuhnya pun dibaringkan. Skolastika wafat pada tahun 543. Pestanya dirayakan setiap tanggal 10 Februari.

St. Skolastika bantulah kami untuk menempuh hidup Kristiani yang saleh. Bantulah kami untuk menyerahkan diri kami dalam bimbingan Roh Kudus agar kami pun memiliki iman yang sempurna seperti yang engkau miliki. Amin.

Jumat, 27 Maret 2009

Santa Cecilia




Santa Cecilia

Cecilia adalah orang kudus yang sangat terkenal dan termasuk martir yang sangat dicintai dalam tradisi Gereja Katolik. Menurut ceritera, ia adalah gadis Kristen yang sangat cantik, berasal dari keluarga ternama. Ia dipaksa menikah dengan Valerian. Karena kesucian hidupnya, Valerian begitu hormat kepada Cecilia dan menghormati keputusan Cecilia untuk hidup suci. Bahkan Valerian juga terpesona dengan kekristenan yang ditunjukkan oleh Cecilia, karena itu ia kemudian menjadi Kristen dan mati sebagai martir.

Pesta santa Cecilia telah dirayakan oleh Gereja sejak abad ke enam. Nama Cecilia juga terdapat dalam Doa Syukur Agung. Ia adalah seorang martir perawan. Ceritera kematiannya begitu menawan. Cecilia menolak mempersembahkan korban kepada dewa-dewi dan ia sendiri menolak menjadi korban untuk dewa-dewi. Melihat hal tersebut penguasa menjatuhkan hukuman agar Cecilia digiling sampai rata. Tetapi Allah melindungi dia. Alat penggiling yang disiapkan tak berdaya menyentuh tubuh suci Cecilia. Kemudian penguasa mengubah putusan agar Cecilia dihukum dengan pedang saja. Perajurit mencoba memenggal kepalanya tiga kali, tetapi selalu gagal. Cecilia hanya terluka oleh pedang tajam para perajurit. Cecilia kesakitan dan terjatuh ke tanah penuh dengan lumuran darah. Dia dengan segala luka-luka hasil penyiksaan tetap bertahan hidup sampai tiga hari kemudian. Setelah menerima Komuni, dia menghembuskan nafas terakhir. Ia wafat pada tanggal 16 September 117. Dia dimakamkan di makam St. Callistus.

Cecilia adalah Santa pelindung music Gerejawi. Title in diberi kepadanya karena ia, pada hari perkawinannya yang dipaksakan tersebut, tidak mendengar music duniawi melainkan music surgawi, di dalam hatinya. Ia dalam hatinya menyanyikan lagu-lagu merdu untuk Allah. Cecilia menjadi symbol bahwa music yang bagus adalah bagian penting dari liturgy Gerejawi.

Pestanya dirayakan pada 22 November.

GADIS KECIL


Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar,ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena "sudah terlalu penuh". Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu
menangis ? "Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu" kata si gadis kecil.

Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tidak
disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil.

Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaannya,sehingga pada waktu sebelum tidur di malam itu, ia sempat memikirkan anak anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus.

Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih
beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur. Sejak saat itu,si gadis kecil "berkawan" dengan sang pastur.

Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggalnya didaerah
kumuh,dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati
untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana.

Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis dirapihkan, sebuah dompet
usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah. Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 cents dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya :

"Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa
diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu"

Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis
kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uang nya sampai terkumpul sejumlah
57 cents untuk maksud yang sangat mulia. Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang
pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja.

Namun Ceritanya tidak berakhir sampai disini. Suatu perusahaan koran yang
besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus menerus. Sampai
akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini dan ia segera menawarkan
suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 cents,setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu. Para
anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan
pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini
bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000
dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu(pada pergantian abad, jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton ).

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang
terawat dan kurang makan,namun perduli pada sesama yang menderita. Tanpa
pamrih, tanpa pretensi.

Senin, 23 Maret 2009


Kebiasaan memasang pohon Natal sebagai dekorasi dimulai dari Jerman. Pemasangan pohon Natal yang umumnya dari pohon cemara, atau mengadaptasi bentuk pohon cemara, itu dimulai pada abad ke-16.

Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah. Dari catatan yang ada, orang Jerman di Pennsylvania Amerika Serikat memajang pohon Natal untuk pertama kalinya pada tahun 1830-an.

Pohon Natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun dirumah sebab ini hanya merupakan simbol agar kehidupan rohani kita selalu bertumbuh dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain "evergreen". Pohon Natal (cemara) ini juga melambangkan "hidup kekal", sebab pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara selalu hijau daunnya.

Pemasangan pohon cemara, baik asli maupun yang terbuat dari plastik, di tengah kota atau di tempat-tempat umum pun menjadi pemandangan biasa menjelang Natal. Salah satu yang terbesar adalah pohon yang ada di Rockefeller Center di 5th Avenue New York AS.